Dalam melaksanakan tugasnya tenaga medis dibantu dengan berbagai peralatan. Begitu pula seorang dokter. Untuk melayani masyarakat dalam memeriksa dan mengobati pasien dokter dibekali peralatan yang wajib untuk dikalibrasi. Kalibrasi alat kedokteran singkatnya adalah memastikan akurasi nilai alat dengan membandingkannya kepada nilai yang telah ditetapkan dan diterima secara nasional maupun internasional.

Pelaksanaan kalibrasi alat kedokteran bertujuan untuk menjamin mutu alat kedokteran yang digunakan untuk melayani masyarakat dengan memastikan akurasinya dan menghindari resiko-resiko yang dapat ditimbulkan dari penyimpangan instrumen ukur. Maka dari itu, untuk menjamin ketepatannya dalam melakukan proses kalibrasi memiliki urutan tersendiri termasuk untuk alat kedokteran. Begini tahapan kalibrasi alat kedokteran yang runtut.

Tahapan Kalibrasi Alat Kedokteran yang Runtut

Proses kalibrasi tidak boleh dilakukan secara sembarangan atau tidak runtut. Inilah tahapan kalibrasi alat kedokteran yang sesuai standar yang berlaku.

Persiapan Kalibrasi

Sebelum melaksanakan kalibrasi, perlu dipersiapkan beberapa hal untuk melancarkan proses kalibrasi. Aspek-aspek yang harus anda siapkan dalam tahap persiapan kalibrasi adalah peralatan, pelaksana, kondisi lingkungan, dan metode kalibrasi.

Terdapat 2 alat yang perusahaan harus sediakan saat akan melakukan kalibrasi. Kedua alat tersebut adalah alat standar yang memiliki ketelusuran yang dibuktikan dengan sertifikat kalibrasi. Dan alat yang akan dikalibrasi harus dipastikan dalam kondisi sesuai metode kalibrasi untuk mencegah pengaruh lingkungan pada hasil ukur yang didapatkan.

Ketika persiapan alat sudah selesai, selanjutnya adalah menentukan pelaksana kalibrasi. Pelaksana kalibrasi harus memenuhi syarat untuk menghindari kesalahan dalam pengambilan data ukur. Syarat tersebut bertujuan untuk menghindari kesalahan pemahaman saat mengerjakan kalibrasi. 

Pengamatan pada kondisi lingkungan kalibrasi juga perlu dipersiapkan. Lingkungan yang baik harus sesuai dengan syarat metode kalibrasi. Contohnya pengamatan detail pada suhu dan kelembaban karena beberapa peralatan sensitif dengan perubahan lingkungan. Persiapan terakhir adalah metode kalibrasi. Metode kalibrasi yang digunakan wajib mengacu pada standar tertentu yang berbasis publikasi yang diakui masyarakat luas.

Pelaksanaan Kalibrasi

Perlu anda ketahui jika kalibrasi bukanlah kegiatan untuk memperbaiki alat tetapi meneliti kebenaran nilainya. Ketika anda menemukan alat yang akan dikalibrasi mengalami kerusakan maka perbaikilah terlebih dahulu. Pelaksanaan kalibrasi menuntut ketelitian yang sangat tinggi. Oleh karena itu, alat akan disetel ulang sebelum proses kalibrasi dilaksanakan untuk menghindari kesalahan titik nol. Tahap ini meliputi penyetelan kedataran, pembersihan alat, dan penyetelan titik nol.

Setelah alat telah disetel ulang, tahapan berikutnya yaitu pengamatan pada kewajaran penunjukan alat. Jika hasil ukur yang didapatkan tidak wajar maka harus mencari solusinya terlebih dahulu dengan penyetelan kembali atau bergantung sebabnya. Tahapan setelahnya adalah pelaksanaan pengukuran yang mengikuti acuan kalibrasi. Pembuatan titik ukur yang mudah dibaca pengamat menjadi hal terpenting dalam tahapan ini. Hal tersebut dilakukan agar pengamat tidak kebingungan dalam membaca hasil ukur.

Untuk memastikan data tercatat sesuai yang dilihat maka pencatatan hasil ukur tidak boleh didasari apa yang dirasakan melainkan yang dilihat. Sehingga kalibrasi terlaksana secara objektif. Beberapa aspek yang dicatat yakni data ukur, kelengkapan identitas alat, dan faktor yang berkontribusi memengaruhi kalibrasi. Faktor-faktornya ialah shu ruangan, kelembaban, cahaya, tekanan udara dan sebagainya.

Menghitung Data dan Nilai Ketidakpastian

Hasil kalibrasi yang didapatkan dipengaruhi banyak faktor yang dapat menimbulkan ketidak pastian. Jenis kalibrasi yang dilakukan juga menentukan faktor mana saja yang dapat diabaikan dan faktor yang mendominasi. Pengaruh dari faktor tersebut berkaitan dengan peralatan, pelaksana, lingkungan, dan metode kalibrasi.

Melihat banyaknya faktor yang memengaruhi hasil kalibrasi maka nilai telusur atau kesalahan sistematik berada pada rentang nilai sesuai ketidakpastian kalibrasi. Maka dari itu, penentuan ketidakpastian kalibrasi termasuk tahapan yang penting untuk dilaksanakan.

Membuat dan Menerbitkan Laporan

Laporan kalibrasi dibuat dengan format yang berpedoman pada SNI 19-17025. Terdiri dari 4 tahap dalam pembuatannya yaitu pembuatan konsep, pemeriksaan, pengetikan, dan pengesahan laporan. Konsep laporan harus dibuat berdasarkan hasil pengukuran, perhitungan data hingga perhitungan ketidakpastian. Setelah itu konsep diperiksa oleh petugas yang berwenang. Pemeriksaan konsep meliputi kesalahan identitas data, pengambilan data, hasil penghitungan, dan ketidakpastian.

Penyertaan pemeriksaan kebenaran pengetikan wajib disertakan dalam pengetikan konsep laporan dengan melihat kesesuaian antara konsep laporan dengan hasil pengetikan konsep laporan. Ketika laporan sudah sesuai maka laporan akan disahkan oleh kepala laboratorium kalibrasi atau yang mewakili yang memiliki pengetahuan dan pengalaman dibidang kalibrasi.

Uji Kalibrasi untuk Alat Kedokteran

Sesuai dengan PERMENKES No. 54 tahun 2015 pasal 4 yang berisi bahwa alat kesehatan yang digunakan harus melalui uji kalibrasi secara berkala oleh BPFK atau Institusi Pengujian Fasilitas Kesehatan. Uji kalibrasi yang dilaksanakan meliputi 3 pengujian yang dilaksanakan. Ketiga uji dapat anda baca dibawah ini.

  • Uji Fungsi
    Uji fungsi kalibrasi sesuai dengan pasal 6 ayat (2) yang menguji alat secara keseluruhan untuk mengetahui apakah alat kedokteran dapat beroperasi dengan baik sesuai fungsinya dengan pengujian bagian-bagian alat kedokteran.
  • Uji Keselamatan
    Uji keselamatan dalam pengkalibrasian alat kedokteran difungsikan untuk melihat apakah alat kedokteran menimbulkan bahaya ketika digunakan hingga mengancam keselamatan pasien ataupun tenaga medis.
  • Uji Kinerja
    Uji kinerja adalah pengujian yang mengamati bagaimana tingkat keberhasilan alat kedokteran pada saat digunakan.

Tolak Ukur Penilaian Kalibrasi Alat Kedokteran

Alat kedokteran yang dikalibrasi juga dapat terpengaruh beberapa kondisi yang menyebabkan perbedaan penilaian. Oleh karena itu, terdapat 4 tolak ukur yang dapat dipertimbangkan saat mengkalibrasi alat kedokteran. Empat diantaranya adalah pengukuran kondisi lingkungan, pemeriksaan kondisi fisik dan fungsi komponen alat kesehatan, pengukuran keselamatan kerja, dan pengukuran kinerja sebelum dan sesudah dikalibrasi.

Terdapat satu nilai selain tolak ukur diatas yang menentukan kebenaran nilai dan kualitas alat ukur. Nilai tersebut adalah hasil pengukur dari instrument yang tidak melebihi penyimpangan yang ditentukan karena setiap alat kedokteran memiliki penyimpangan skala ukur yang berbeda.

Kriteria Alat Kedokteran Lulus Uji Kalibrasi

Alat kedokteran merupakan salah satu alat kesehatan yang digunakan seorang dokter untuk memeriksa, mendiagnosa, dan mengobati pasien. Alat kedokteran yang layak pakai untuk melayani masyarakat adalah alat kedokteran yang telah lulus uji kalibrasi. Inilah kriteria yang dapat anda gunakan untuk mengamati apakah alat kedokteran telah lulus uji kalibrasi atau tidak.

Kriteria pertama ialah jika penyimpangan hasil pengukuran tidak melebihi nilai yang diizinkan. Kemudian kriteria kedua alat kedokteran lulus kalibrasi ketika hasil pengukuran keselamatan kerja ada diambang batas yang diijinkan.

Kesimpulan

Kegiatan kalibrasi alat kedokteran tidak boleh dilakukan secara sembarangan dan dalam pelaksanaannya dituntut ketelitian. Tahapan yang runtut akan membantu pengamat kalibrasi bekerja lebih efisien dan menghindari kesalahan perhitungan. Dalam tahapan tersebut juga harus berdasarkan pedoman yang dapat dipertanggung jawabkan.

Setelah menyelesaikan artikel ini, anda mengetahui bagaimana tahapan kalibrasi alat kedokteran yang runtut. Hal ini berguna ketika anda melakukan kalibrasi pada alat kedokteran dan ingin memastikan kinerja pengamat kalibrasi.